Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CARA HEMAT MEMBANGUN RUMAH SENDIRI

Judul diatas untuk rumah berlantai satu, pengantar artikel ini menyampaikan tentang pekerjaan dan sub pekerjaan dari struktur bangunan rumah tinggal, jadi belum menjelaskan komponen pekerjaan eksterior dan interior, namun setelah perencanaan struktur dapat dilanjutkan untuk pengembangan rencana interior dan eksterior sesuai selera masing masing.

Struktur sebuah rumah tinggal terdiri dari :

  1. Pondasi
  2. Sloof
  3. Tiang / Kolom
  4. Dinding
  5. Balok Atas
  6. Atap
PONDASI

Berfungsi untuk menahan beban atas struktur bangunan dan terletak langsung di atas tanah. Type pondasi berbagai bentuk. Pondasi terbentuk dari beberapa bahan seperti kayu, beton komposit dan batu kali. Pemakaian bahan pondasi, ukuran dan bentuk tergantung pada kondisi DAYA DUKUNG TANAH setempat.

Perletakan pondasi dominan mengikuti jalur dinding di atasnya. Selain dipakai untuk dasar bangunan, juga dapat dipakai sebagai dasar sebuah dinding penahan tanah, jembatan, dermaga dan lainnya.

Dominan permukaan pondasi tertanam di dalam tanah. Komposisi bahannya direncanakan tahan terhadap lapuk dan rapuh akibat bersentuhan dengan tanah yang memiliki unsur unsur kimia yang dapat merusak struktur atau lapisan permukaan pondasi.

Sesuai penamaannya bahwa pondasi terdiri dari pondasi tiang pancang, pondasi menerus, pondasi setempat, pondasi cakar ayam, dan lainnya. Penamaan dan pemilihan model pondasi tergantung juga pada kondisi DAYA DUKUNG TANAH setempat.

SLOOF

Istilah sloof dahulu berasal dari bahasa Belanda, meski sudah lama istilah ini digunakan dalam kegiatan konstruksi bangunan, tidak mengurangi makna sloof tersebut.
Sloof berfungsi sebagai pengikat atau penghubung antar tiang bangunan pada posisi tepat diatas pondasi.

Sloof umumnya terdiri dari beton bertulang selain ada juga kayu. Beton bertulang memiliki komposisi bahan semen, pasir, batu pecah, besi dan kawat ikat. Ukuran penampang melintang sloof didasari penghitungan beban yang dipikulnya. Bentuk sloof ada yang segiempat dan trapesium.

Beton bertulang terdiri dari beton dan besi. Beton terdiri dari semen, pasir dan batu pecah berukuran variatif tergantung beban yang dipikul sloof tersebut. Ada ukuran 1/3, 2/3, 3/5, yang mengandung makna 1/3 adalah bentuk pecahan batu tersebut memiliki ukuran 1 cm maksimum 3 cm. Beton untuk sloof umumnya memakai komposisi campuran 1:2:3 dengan makna campuran semen:pasir:kerikil (batu pecah) dan masing masing bahan memakai satuan yang sama saat dicampur sebelum diaduk.

Sementara pembesian pada sloof yang diperlukan adalah besi utama, besi sengkang/behel (pengikat beberapa besi utama) dan kawat yang berfungsi sebagai pengikat antara sengkang dengan besi utama. Penggunaan diameter besi didasari penghitungan oleh perencana. Begitu juga penempatan antar sengkang searah memanjang besi utama memiliki jarak yang variatif namun seragam jaraknya dan pada posisi beban terpusat maka jarak antar sengkang lebih kecil sedikit, Semua nilai jarak sengakang didasari pada penghitungan oleh perencana.

TIANG / KOLOM

Kolom terbentuk dari beberapa material bahan seperti beton dan besi, meski ada juga tiang yang komposisinya hanya beton tanpa besi. Sebelum tiang dicetak harus diperhatikan jarak antara lapisan luar beton dengan besi pada bagian dalam beton minimal 2,5 cm, yang ini biasa disebut SELIMUT BETON. Agar selimut beton memiliki ukuran jarak yang sama dari bawah, tengah hingga atas tiang (sebelum dicetak), demikian juga berlaku untuk sloof dari awal, tengah dan akhir secara horizontal, maka bisa dikaitkan TAHU BETON ke besi utama menggunakan kawat.

DINDING

Struktur dinding terbentuk dari batu bata atau batako atau beton atau papan. Fungsi dinding sebagai penyekat antar ruangan dalam demikian juga bagian dalam dan luar bangunan.
Agar pemasangan batu bata tegak vertikal dan lurus horizontal maka bisa digunakan benang sebagai panduan dan juga alat waterpass datar, sebelum pemasangan batu bata membentuk dinding.
Sub pekerjaan pada bidang dinding terdiri dari :
  1. Pemasangan batu bata dan penerapan spasi pada susunan batu bata tersebut. Spasi ini berfungsi sebagai perekat antar batu bata.
  2. Kosen pintu, jendela dan ventilasi (udara dan cahaya).
  3. Plesteran dinding dan pengacian
  4. Pemasangan instalasi listrik (stop kontak, saklar) dan sanitasi
  5. Pengecatan
BALOK ATAS

Balok atas memiliki fungsi setengah dari sloof. Balok atas untuk pengikat bagian atas keseluruhan tiang serta menahan beban atap. Sementara sloof menahan beban dari atas termasuk beban balok atas. Ukuran melintang balok atas lebih kecil dari sloof. Komposisi bahan pembentuk terdiri dari beton dan besi. Selain itu juga balok atas bisa menahan struktur atap diatasnya agar tidak bergoyang atau terbang dihembus angin kuat.
Balok atas juga bisa membantu menahan beban rangka plafond.

ATAP

Atap merupakan bagian penutup atas pada sebuah bangunan. Atap terdiri dari rangka atap, penutup rangka (bahan seng), rabung (penutup atar ujung seng bagian atas yang membentuk puncak) dan talang (penutup tekukan antar ujung seng).

Rangka atap berbahan beton, kayu, aluminium dan baja. Sementara penutup bagian atas rangka atap seperti seng, beton, kaca, genteng, dan lainnya. Komponen rangka atap terdiri dari kuda kuda, kasau, nok, gording dan reng.

Dari beberapa uraian diatas tentunya yang paling utama sebelum membangun rumah yang harus dimiliki untuk dipelajari adalah DESAIN KONSTRUKSI RUMAH tersebut. Komponen pada desain gambar konstruksi terdiri denah, tampak samping kiri/kanan, tampak atas, potongan melintang dan memanjang bangunan serta detail potongan gambar.

Kemudian bagaimana cara agar hemat membangun rumah sendiri?

Setelah mempelajari desain gambar konstruksi (berlantai satu), maka dapat disimpulkan sub pekerjaan mana yang dapat dilakukan secara bertahap. Uraian dibawah ini akan dijelaskan beberapa sub pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus dan mungkin bisa dilakukan sendiri.
  1. Pemetaan lokasi bangunan dengan memasang bouwplank. Fungsi bouwplank memberi tanda perletakan jalur pondasi dan elevasi struktur bangunan bawah. Karena beberapa item pekerjaan bouwplank ini membutuhkan keahlian maka disarankan ditangani oleh ahlinya. Dampak pemasangan posisi bouwplank yang salah mengakibatkan terjadinya kemiringan dinding searah horizontal (mempengaruhi estetika bangunan) dan permukaan pondasi maupun sloof di bagian atas terjadi beda tinggi di posisi yang berbeda tempat sehingga tidak tertutup kemungkinan mempengaruhi permukaan lantai yang tidak datar. Bahan yang digunakan untuk bouwplank hanya kayu dan papan, sementara alat pendukung lainnya seperti paku, benang dan waterpass. Waterpass bisa menggunakan selang yang terisi air (fungsi guna memperoleh tinggi permukaan bidang agar sama pada posisi perletakan yang berbeda). Pekerjaan bouwplank ini bisa diborongkan.
  2. Bahan Pondasi (jika diisyaratkan dalan desain konstruksi adalah batu kali) dapat dilakukan pengadaannya secara bertahap. agar pemasangan batu kali lurus secara horizontal dapat dibantu dengan papan mall. Perekatnya menggunakan semen bercampur pasir dengan perbandingan serta ukuran seperti yang tertera di lembar desain. Jangan lupa menanamkan stik besi pada pojok pondasi dan tengah (berfungsi meneruskan besi utama tiang/kolom. Setelah pemasangan pondasi dan tunggu masa jeda selama proses pengerasan.
  3. Sloof terdiri dari beton dan tulangan besi. Besi utama dililit oleh sengkang/begel. Sengkang ini berukuran seperti yang tertera di lembar desain gambar konstruksi. Sengkang ini bisa dikerjakan secara berangsur angsur (sesuai kemampuan dalam sehari). Ukuran diameter seperti yang tercantum dapat dipesan secara bertahap. Saat kebutuhan besi dan sengkang jumlah cukup maka dapat dirangkai di atas pondasi. Agar sengkang dan besi utama horizontal menyatu maka diikat dengan kawat 2 lapis. Setelah rangkaian pembesian sloof selesai maka dapat dikerjakan rangkaian tulangan untuk tiang/kolom, agar disaat bersamaan dilakukan pengecoran terhadap sloof, otomatis besi tiang bagian bawah sudah ikut dicor.
  4. Setelah pekerjaan sloof selesai dicor maka tunggu masa jeda beton sloof mengeras (berkisar 21 hari). Kemudian dapat dilanjutan pengerjaan dinding atau pengecoran tiang/kolom. Hal yang perlu diperhatikan selama pengerjaan dinding bata harus dipandu dengan benang searah vertikal dan lurus (ikuti juga jalur sloof yang sudah lurus sejak awal), gunakan waterpas datar (alat) guna memastikan bidang vertikal bata sudah tegak lurus. Pemasangan dinding bata ini dapat juga dilakukan secara berangsur angsur sesuai kemampuan (waktu, biaya dan tenaga). Pekerjaan lain yang menyatu ke dinding seperti instalasi listrik (perlu keahlian) kosen pintu dan jendela ditempah demikian juga daun pintu dan jendela dapat ditempah karena keduanya membutuhkan keahlian, pemasangan kosen ke dinding agar tegak dan lurus dapat menggunakan waterpass dan disanggah dengan kayu sebagai penopang. Plester dinding dan pengacian butuh keahlian. Pengecatan bidang luar dan dinding dapat dilakukan sendiri.
  5. Pekerjaan atap sebenarnya membutuhkan keahlian dan tenaga ahli tersendiri yang sudah berpengalaman mengerjakan atap. Komponen struktur atap terdiri dari kuda kuda (berfungsi sebagai penopang utama bagi komponen lainnya), gording, kasau, listplank, rangka plafond dan reng. Penutup nya berbahan seng, genteng serta bahan atap lainnya.
Rincian daftar pekerjaan yang dapat dilakukan secara bertahap (diborongkan / tidak) :
  1. BOUWPLANK atau istilah lainnya, pemetaan dan pemasangan tanda untuk lajur pondasi serta bidang lainnya sesuai petunjuk denah pada lembar desain gambar struktur. Bahan yang dibutuhkan adalah kayu, papan, benang. Alat yang dibutuhkan : cangkul, waterpass selang air, palu dan alat lainnya yang relevan.
  2. PONDASI, beberapa sub pekerjaan terdiri dari galian, pembuatan dan pemasangan mall dari papan, pemasangan batu dan perekat (adukan pasir dan semen). Tinggi permukaan pondasi harus sama pada seluruh bidang atas sesuai lajur bidang dinding. Tanamkan stik besi guna diteruskan ke besi utama tiang/kolom. Jarak horizontal antar tiang kolom utama maksimal 4 meter. Panjang stik besi (tangkai) minimal 1 meter dari atas permukaan pondasi yang telah selesai dikerjakan. Butuh masa jeda agar kekuatan rekat antar batu kali tercapai (berkisar 21 hari) setelah pondasi selesai dikerjakan. Bahan yang dibutuhkan : batu kali, semen, pasir, papan, kayu, benang ukur. Alat yang dibutuhkan : waterpass (selang dan datar), palu dan alat lainnya.
  3. Tiang/kolom, beberapa sub pekerjaannya terdiri dari pembuatan mall (cetakan), pembesian. Besi tiang/kolom hanya 2 macam yaitu besi utama dan besi sengkang yang diikat oleh kawat. Penempatan jumlah besi utama searah mata angin berbeda beda (ikutin petunjuk di desain gambar konstruksi) demikian juga diameter besi utama. Pembengkokan sengkang dapat dilakukan diatas kayu dengan bantuan tuas tekuk untuk sengkang, bisa dikerjakan sendiri sesuai petunjuk ukuran yang ada. Besi utama dan pemasangan sengkang serta mengikatkan dengan kawat dapat dilakukan diatas bidang datar. Setelah selesai dirangkai kemudian dipindahkan ke posisi tiang dengan cara menegakkannya. Kemudian dibungkus dengan papan mall. Perlu diingat hasil ketebalan selimut beton (jarak antara tepi besi utama ke permukaan luar tiang/kolam yang telah selesai dicor. Untuk menjaga ketebalan selimut beton dari bawah, tengah dan atas tiang/kolom adalah sama, maka dapat digunakan (dikaitkan) tahu beton. Butuh masa jeda beberapa hari setelah tiang/kolom selesai dicor semua, baru bisa dibongkar mall/cetakan tiang. Hanya pekerjaan tiang/kolom dapat diborongkan tersendiri atau terpisah dengan jenis pekerjaan lainnya.
  4. Pekerjaan dinding bata mungkin bisa dilakukan sendiri, jika tidak dapat diborongkan (khusus dinding). Sebelum pekerjaan dinding dimulai, sudah tersedia kosen pintu dan jendela dilokasi bangunan serta ploting lajur penempatan asesoris instalasi listrik (stop kontak, saklar) dan instalasi air (pipa), demikian juga ventilasi udara maupun ventilasi cahaya.
  5. Balok atas merupakan pondasi atas bagi rangka atap, juga mengikat/mengunci/menutup bidang atas tiang/kolom dan dinding bata. Selain itu balok atas bisa sebagai penahan gantungan rangka utama plafond. Balok atas terbuat dari komposisi beton bertulang. Pekerjaan ini sama dengan pekerjaan tiang/kolom hanya perbedaan di ukuran saja. Pekerjaan balok atas bisa sepihak diborongkan atau dikerjakan sendiri.
  6. Pekerjaan terakhir dalam sebuah struktur bangunan adalah pekerjaan atap. Bentuk atap bermacam macam, panduannya bisa dibaca pada lembar desain gambar struktur. Karena pekerjaan struktur atap ini agak rumit maka butuh keahlian khusus, jadi bisa diborongkan.

Kesimpulan terhadap beberapa pekerjaan yang terpisah pisah untuk diborongkan tergantung manajerial pemilik atas dasar pertimbangan kemampuan dana, waktu dan tenaga.
Selain itu belanja bahan dapat juga dilakukan secara bertahap dan tidak kuatir terhadap kadaluarsa (tidak bisa dipakai / susut) setelah 6 bulan (kecuali semen, pasir), contohnya :
  1. Papan dan kayu untuk cetakan beton.
  2. Besi utama, besi sengkang dan kawat. (volume kebutuhan berdasarkan jumlah yang tertera di lembar desain).
  3. Batu pecah ukuran sesuai di lembar desain.
  4. Paku dengan berbagai ukuran 2 inci, 3 inci dan 4 inci, masing masing 1 kg (kekurangan dapat dipenuhi berikutnya)
  5. Kosen jendela, pintu dan ventilasi.
  6. Kabel listrik (untuk instalasi) beserta asesorisnya (saklar, stop kontak, MCB dan lainnya)
  7. Pipa untuk instalasi air berbagai ukuran, asesories lainnya semisal elbow, tee, soket, kran dan lainnya).
  8. Lantai Keramik dan perekatnya
  9. Bahan untuk rangka plafond (kayu atau jenis bahan lainnya)
  10. Penutup rangka atap (seng, genteng atau jenis bahan lainnya)
Demikian beberapa penjelasan untuk pekerjaan struktur yang utama dan menjadi prioritas. Semoga bermanfaat.

Post a Comment for "CARA HEMAT MEMBANGUN RUMAH SENDIRI"