SIKAP SUPERVISOR PADA KONTEKS PEMBERDAYAAN DI DESA (JILID 1)

Pada pelaksanaan sebuah pekerjaan, ada orang yang sangat efektif melakukan tugas nya sebagai supervisor, dan juga yang kurang efektif sebagai supervisor. Ada dua hal yang menyebabkan efektifitas ini, yaitu sikap orang dan keterampilan yang dimiliki.

1. Sikap yang Harus Dimiliki

Barangkali tidak semua supervisor memiliki semua hal di bawah ini, tetapi sikap yang tercantum di bawah ini akan sangat membantu. Apakah sikap tersebut dapat di ubah atau diperbaiki?.

Memang sebagian dari sikap sudah ada dari waktu kecil, namun untuk banyak hal dapat diubah bila mau. Beberapa yang di bawah sadaran dapat dikendalikan kalau sudah menyadari bahwa hal tersebut adalah penting. Pertama dipelajari secara intelektual, kemudian sejalan dengan waktu akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi nilai Kita.

1.1. Optimis

Terdapat karakter yang optimis dan pesimis, dan hal ini memperngaruhi cara kita bekerja. Tidak bisa dikatakan optimis atau pesimis lebih baik, karena terlebih dahulu harus tahu lebih baik untuk apa? Menurut hemat Kami, supervisor dalam pekerjaan pemberdayaan masyarakat harus optimis dan pesimis tetapi pada peran yang berbeda.

Secara alamiah, apakah Kita oprtimis atau pesimis?. Pada umumnya, orang optimis melihat baiknya dalam suatu situasi dan orang pesimis melihat yang kurang baiknya. Tetapi dapat dilihat pada saat mereka memikirkan suatu situasi yang bermasalah :
  • Orang optimis akan memberi penjelasan tentang masalah seperti masalah itu adalah hal yang sementara dan tidak akan berlaku seterusnya. Pesimis akan memberi penjelasan seperti masalah itu selalu ada.
  • Orang optimis akan memberi penjelasan yang cukup spesifik seolah masalahnya terjadi pada situasi tertentu, tetapi orang pesimis akan memberi keterangan bahwa keadaan negatif itu berlalu di banyak situasi.
  • Orang optimis akan memberi penjelasan bahwa masalah tersebut tidak ada kaitan erat dengan diri sendiri - dia punya penyebab masalah. Orang pesimis akan memberi penjelasan bahwa masalah tersebut bersangkut paut dengan diri sendiri.
Akibat dari pemikiran seperti itu, orang pesimis sering kewalahan karena menghadapi masalah yang bersifat permanen, umum, maupun pribadi. Dia akan hilang semangat, kurang percaya diri, kurang berminat dan putus asa.

Orang berpikir dengan gaya pesimis mungkin dapat mengubah pola pikir agar lebih optimis. Boleh mencoba dengan memikirkan yang lain (pengalihan perhatian) atau dengan melawan pemikiran negatif (tidak menerima masalah itu permanen atau umum atau ada kaitan dengan diri sendiri).

Untuk cara pertama, mungkin cukup hanya dengan cara sengaja dapat ditunda pemikiran negatif sampai jam tertentu. Kalau mau melawan negatifnya, satu persatu ditanyakan apakah ada bukti itu sebuah masalah permanen, umum atau pribadi?

Ada beberapa profesi yang terdapat orang pesimis, karena orang pesimis punya kelebihan juga.
  • Orang pesimis lebih akurat dalam persepsi, karena orang optimis sering mengubah persepsi agar baik baik semua.
  • Orang pesimis selalu dapat memikirkan hal hal yang jelek yang bisa terjadi, yang ternyata sangat berguna bagi orang designer, orang yang menghitung kebutuhan biaya, orang yang mengendalikan kualitas, auditor, orang yang negosiasi kontrak. Terutama situasi yang berisiko tinggi.
Sehingga supervisor teknik harus mampu berpindah dari dunia optimis ke dunia pesimis. Ada banyak pekerjaan yang perlu optimisme : mengadapi masalah serius, harus bertahan lama, menjadi motivator, pelatihan, pembinaan kelompok, pemecahan masalah, pembimbingan, memikirkan masa depan serta berhubungan dengan masyarakat.

Akan tetapi ada banyak kesempatan untuk menerapkan pemikiran yang pesimis. Pemeriksaan desain, pemeriksaan lapangan, pengendalian kualitas, membantu masyarakat membuat perjanjian dengan suplayer, atau menghadapi situasi yang beresiko tinggi.

Sehingga.......sebaiknya mampu melakukan kedua duanya pada situasi yang berbeda. Dan tidak pakai gaya yang kurang tepat dengan situasi.

1.2. Mau Memajukan Anak Buah

Supervisor yang baik, seperti pelatih harus selalu mempunyai keinginan untuk melihat anak buahnya maju dan berhasil. Bukan maju supaya kita berhasil dan memiliki reputasi yang baik, tetapi maju demi kepentingan mereka sendiri. Ada kepuasan yang indah bila mereka berubah secara positif.

Dengan sedikit introspeksi Kita bisa melihat motivasi diri sendiri. Mengapa mau menjadi seorang supervisor? apakah karena prestise? karena uang? atau karena lebih enak dari pada kerja di desa tiap hari? Kalau misalnya gaji dan tunjangan anak buah sama dengan supervisor, masihkah mau jadi supervisor?

Kalau tidak memiliki rasa mau memajukan anak buah, sangat sulit menjadi supervisor yang berhasil dan tidak akan bergembira atas kemajuannya. Lebih baik pindah profesi, karena akan lebih senang dan anak buah juga perlu supervisor yang semestinya.

1.3. Karakter Pribadi

Supervisor yang baik mempunyai karakter pribadi yang membantu dia berhasil dan membantu dia mempertahankan diri bila terjadi masalah. Karakter pribadi sulit dirubah, tetapi bisa diubah dengan berupaya keras. Orang yang suka berdebat dan secara otomatis menolak proposisi teman dapat belajar untuk menunda penilaian dan argumen.

Menurut buku supervisi dan kepemimpinan, ada beberapa sifat orang yang sangat cocok untuk seorang supervisor, sebagai berikut :
  • Modesty (kesederhanaan) - tidak mau menonjolkan diri - sopan
  • Patience (kesabaran) - sabar menunggu, sabar menghadapi masalah sebagai tanda mengendalikan diri.
  • Humility (kerendahan hati) - orang tidak sombong atau tidak arogan
  • Tenacity (keteguhan) - bertahan dan dapat dipercaya
  • Respectfulness (menghargai orang lain) - orang lain selalu dianggap orang penting.
  • Commitment (berkomitmen) - membuat janji dengan diri sendiri
  • Honesty (kejujuran) - jujur, termasuk berbicara secara terus terang
  • Restraint (penguasaan diri) - dapat menahan diri, dapat mengendalikan diri, puas dengan maju secara pelan pelan tidak terburu.
1.4. Komitmen

Komitmen adalah salah satu sifat yang sangat penting, boleh dikatakan mutlak harus dimiliki seorang supervisor dalam pekerjaan seperti ini. Orang yang bekerja dalam pengembangan desa dan pemberdayaan masyarakat menghadapi banyak kesulitan. Sering menghadapi masalah yang kompleks, yang tidak jelas jalan keluarnya.

Selalu menghadapi orang yang tidak punya niat baik dan orang yang akan melihat kesempatan dalam kesulitan Kita. Rasa komitmen adalah senjata Kita untuk mengatasi rasa putus asa di lapangan. Karena supervisor dan anak buahnya hampir selalu bekerja sendiri, tanpa pengawasan harian, perlu komitmen supaya tetap bekerja dengan keras demi masyarakat.

Khusus konsultan dengan jabatan fasilitator, pendamping desa atau jabatan yang sejenisnya, perlu komitmen yang cukup tinggi, seperti uraian di dalam tabel di bawah ini :

Tingkat Komitmen

Komitmen Penuh Ingin sekali. Bertanggung jawab atas keberhasilannya, mengubah aturan agar terjadi
Komitmen Ingin sekali. Akan melakukan segalanya dalam aturan yang ada, dalam arti luas
mengikuti penuhMelihat manfaat dan hasilnya. Mengerjakan segala yang diminta, bahkan sering lebih. Mengikuti seluruh
Mengikuti secara formalPada umumnya melihat manfaatnya. Melakukan apa yang diminta saja. Lumayan
Mengikuti dengan terpaksaKurang lebih manfaat. Mengikuti peraturan karena kalau tidak akan dipecat. Tetapi jelas kurang setuju
ApatisTidak Peduli. Tidak setuju. Tapi juga tidak menolak
Tidak mengikutiTidak melihat manfaat dan tidak akan mengikuti aturan. Tidak bisa dipaksakan

Jika berada di tingkat bawah, misalnya apatis atau tidak mengikuti, konsultan tidak akan berhasil bekerja dengan masyarakat karena tidak akan siap mengorbankan waktu yang diberikan, tidak akan sanggup untuk mengulangi topik pelatihan sekian kali karena belum dipahami betul, atau mengikuti pertemuan pada waktu yang kurang cocok bagi dia.
Supervisor program pemberdayaan
Hal itu fakta dan kebutuhan pekerjaan di lapangan. Sehingga orang pintar yang tidak berkomitmen lebih baik mengganti profesi daripada menjadi beban bagi masyarakat. Tidak apa apa, tidak semua orang mempunyai komitmen untuk bekerja keras demi kepentingan orang lain.

0 Response to "SIKAP SUPERVISOR PADA KONTEKS PEMBERDAYAAN DI DESA (JILID 1)"

Post a Comment