PENGAWASAN KEGIATAN PROYEK JALAN Secara PADAT KARYA

image : wikimedia
Padat Karya merupakan kegiatan pembangunan diperdesaan yang dominan menggunakan tenaga manusia di banding peralatan, dengan tujuan untuk membuka lapangan kerja seluas luasnya bagi masyarakat desa terutama bagi rumah tangga miskin.

Implementasi Padat Karya di dominasi oleh pekerja pria, namun di program PNPM Mandiri Perdesaan diharapkan peran perempuan mendapatkan porsi pekerjaan yang bisa dilakukannya.

Pada artikel ini bahwa pengawasan yang dilakukan dengan alasan masyarakat setempat belum tentu berpengalaman menerapkan kriteria atau spesifikasi pembangunan jalan yang baik. Pada uraian di bawah ini terdapat keterangan mengenai kegiatan kunci untuk memperoleh metoda guna meningkatkan kesadaran dan kemampuan tenaga kerja di proyek jalan.

  1. Pemasangan batu pada permukaan badan jalan, karena cenderung memasang batu supaya cepat selesai dan tidak banyak menghabiskan material, misal dengan memasang susunan batu dasar, supaya setiap batu menutup tanah sebanyak mungkin. Terkadang penyusunan batu kurang rapi, hanya dipasang seadanya tanpa diisi selah selahnya dengan batu kecil sebagai pengunci.
  2. Contoh lain jika badan jalan belum berbentuk "punggung sapi" batu besar dipasang di tengah jalan dan semakin kepinggir semakin kecil. Pada akhirnya bentuk memang mirip "punggung sapi" ketika pekerjaan jalan sudah selesai, namun kurang kuat dan lama lama permukaan menjadi tidak rata. Seharusnya ukuran batu sama besarnya dari pinggir ke pinggir, kecuali batu pinggir yang sengaja ditanam.
  3. Pemadatan tanah ; alat mesin gilas hanya disediakan guna menggilas permukaan jalan setelah batu dipasang. Tidak disediakan peralatan, untuk memadatkan tanah sebelumnya. Padahal perkerjaan tanah merupakan pekerjaan inti dari pembuatan jalan. Semakin padat semakin tahan beban, tanah erosi dan tanah longsor. Pekerja sering merasa terlalu sulit untuk memecahkan bongkahan, untuk menjaga kadar air optimum, dan untuk mengatur "lapis demi lapis" 
  4. Karena kualitas pemadatan sulit dicapai, pengawas harus menggunakan strategi lain, untuk betul betul meminta pemadatan di tempat tertentu di mana kualitas sangat tergantung pemadatannya (misal di atas gorong gorong buis beton) dan untuk mengatur letak jalan supaya sejauh mungkin tidak ada permukaan jalan yang dipasang di atas timbunan.
  5. Pembentukan :punggung sapi" ; masyarakat tidak akan membentuk punggung sapi jika belum dijelaskan dan diawasi oleh pengawas. Mereka mungkin belum mengerti kepentingan drainase dari badan jalan. Mereka juga pernah salah anggapan, dianggap bentuk punggung sapi terbentuk dari batu. Maka badan jalan belum terbentuk. Seharusnya badan jalan dibentuk terlebih dahulu, kemudian dihampar pasir dan dipasang batunya.
  6. Pembuatan saluran pinggir jalan ; walau sudah biasa membuat saluran pinggir jalan, biasanya kualitas dan ukurannya kurang memenuhi syarat teknis. Di daerah yang sulit dan agak jauh dari kampung dan lahan produktif, saluran kurang diperhatikan. Pada umumnya dibuat terlalu kecil, kurang dalam dan kurang lebar.
  7. Pemasangan gorong gorong buis beton ; Hampir setiap panjang jalan dilengkapi dengan gorong gorong buis beton. Konstruksi biasanya cukup baik, namun masyarakat sering kali tidak menanam gorong gorong cukup dalam, dan tanah yang ditimbun di atas dan di samping gorong gorong kurang padat. Buis beton harus ditanam dan timbunan tanah di atasnya memiliki ketebalan minimal 1/2 dari diameter gorong gorong tersebut serta timbunan harus dipadatkan dengan prioritas paling tinggi.
  8. Pekerjaan beton bertulang : Pencampuran dan pengecoran beton perlu pengawasan khusus. Beton bertulang sering dipakai dalam gorong gorong plat beton atau jembatan. Masyarakat belum tahu cara cara yang harus dipakai untuk menjaga kekuatan beton dan tulang besinya, antara lain :

  • Beton harus dari bahan yang terjaga kualitasnya
  • Tidak boleh mengandung batu yang lebih besar (efisiensi waktu dan biaya)
  • Besi harus bersih dari minyak / tanah dan tidak berkarat
  • Kadar air sesuai spesifikasi yang diisyaratkan
  • Jarak antara tulangan besi harus diperhatikan sesuai perencanaan pada gambar desain.
     9. Pengawasan dan pembimbingan yang lebih ketat juga untuk kegiatan yang lain yaitu 
         hal hal konservasi seperti bangunan terjun, vegetasi untuk konservasi serta jarak 
         pandang bebas.

Berikut sebagai literatur tambahan tentang tata cara penyelenggaraan program padat karya di lingkungan kementerian perhubungan, sesuai peraturan Menteri nomor PM 73 tahun 2018 dapat dilihat DISINI
PLEASE SHARE THIS POST TO SOCIAL MEDIA :

0 Response to "PENGAWASAN KEGIATAN PROYEK JALAN Secara PADAT KARYA"

Post a Comment