Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PANDUAN SINGKAT PERENCANAAN JALAN DESA

image : wikimedia
A. Penentuan As tengah Jalan

Prinsipnya adalah pengalihan dari bentuk gambar ke lapangan, namun tidak membutuhkan alat ukur optis, karena tidak melakukan pengukuran situasi. Cara kerja penentuan as jalan :

1). Untuk jalan lama penentuan as jalan dengan menancapkan patok di tepi jalan dan diberi nomor.
2). Catatan untuk tiap patok meliputi jarak antar patok ke as jalan, dan jarak antar patok.
3). Untuk jalan baru, pemasangan setiap patok harus dikonfirmasikan mengenai kepemilikan tanah yang harus dibebaskan.
4). Jarak tiap patok diusahakan maksimum 50 meter

B. Pembersihan lapangan

Dimaksudkan untuk membersihkan daerah milik jalan (DAMIJA) sebelum dilakukan pekerjaan selanjutnya. Langkah langkah yang ditempuh adalah :

1). Menentukan lebar damija yang akan dikerjakan dengan mengukur lebarnya melalui patokan as jalan
2). Buat patok patok pembantu ditepi damija yang telah diukur, dan dihubungkan dengan tali plastik.
3). Membersihkan semak belukar dan penghalang penghalang lain pada daerah tersebut. Material hasil pembersihan dikeluarkan dari bagian jalan (ditimbun/dibakar/dimanfaatkan)

C. Pekerjaan Galian

Pekerjaan ini ditentukan dari hasil pengukuran patok tepi saat pembersihan lapangan, begitu juga pekerjaan timbunan. Tahapan pengerjaannya adalah :

1). Plotkan gambar profil melintang jalan pada pekerjaan ini. Gali potongan melintang pada daerah antar dua patok yang berdampingan selebar masing masing 1 atau 2 meter.
2). Buang sisa galian dan disusun secara bertangga di tempat yang telah diisyaratkan oleh konsultan pendamping, dengan memperhatikan saran saran dari masyarakat.

D. Pekerjaan Timbunan

1). Sebelum ditimbun, permukaan tanah harus dibersihkan dulu, dikupas permukaan setebal kurang lebih 20 cm, agar tanah timbunan dapat menempel bersatu (rigrid) dengan tanah dasar yang ada.
2). Tanah dari daerah setempat sedapat mungkin digunakan, bisa tanah kepasiran atau bercampur kerikil. Untuk tanah yang terlalu lembek dan lekat jangan digunakan.
3). Penghamparan dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan maksimum 20 cm untuk tiap lapis. Lakukan pemadatan tiap kali penghamparannya dengan alat steamper atau mesin gilas.
4). Untuk timbunan di daerah lereng pada pekerjaan pelebaran badan jalan, dibuat kupasan bertangga, untuk mendapatkan kekuatan geser dan tanah tidak mudah melorot.
Gambar : Teknik Pelaksanaan Galian dan Timbunan
5). Pada tanah dasar yang lunak, daya dukung tanah dasarnya umumnya lemah, sehingga perlu perkuatan dengan cerucuk atau bentangan bambu/kayu bersilangan yang diletakkan pada tanah dasar yang lembek tersebut.
6). Berikutnya penimbunan dilakukan secara bertahap, lapis demi lapis.
7). Pekerjaan timbunan yang dilakukan di daerah genangan air, permukaan timbunan harus berada minimal 60 cm di atas genangan air.
8). Kemudian badan jalan dibentuk sesuai profil yang dikehendaki.
9). Untuk pekerjaan timbunan pada pekerjaan konstruksi, harus dilakukan pada keadaan konstruksi tersebut sudah kuat, agar tidak menimbulkan kerusakan.

E. Penyiapan Subgrade (tanah dasar)

Subgrade merupakan tanah dasar dibagian bawah lapis perkerasan jalan. Sebelum kegiatan penghamparan perkerasan dilakukan, bagian subgrade harus sudah dalam keadaan siap (kuat, padat, bersih, dan dibentuk sesuai rencana). langkah langkah pelaksanaannya sebagai berikut :

1). Siapkan mal mal (penggaris) lengkung dan lurus yang sesuai dengan gambar penampang jalan untuk menguji bentuk subgrade.
2). Galian tanah dilakukan langsung pembentukan permukaan tanahnya dengan cara mengupas dengan alat cangkul, bila tanah dasar kurang padat, harus dipadatkan dulu dengan catatan pemadatan dilakukan pada tanah dalam keadaan kadar air optimum (lembab, tapi tidak basah)
3). Tanah timbunan dilakukan pengeprasan dengan cangkul sesuai bentuk permukaan yang dikehendaki, dan dilakukan setelah selesai pemadatan tanah timbunan.
4). Bila pelaksanaan pada jalan lama, jalan tersebut harus diratakan lebih dulu (dibongkar, dikupas dengan alat yang sesuai) dan dibentuk agar rata. Permukaan akhir yang dicapai harus dibentuk lagi sesuai kemiringan dan bentuk rencana.

F. Pekerjaan Drainase

Bentuk selokan tepi disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

1). Untuk tanah dasar yang kurang kuat biasanya menggunakan bentuk trapesium.
2). Untuk tanah dasar yang lebih kuat bisa menggunakan bentuk segi empat, karena bisa menghemat lahan.
3). Perlindungan tepi dapat dilakukan bermacam macam tergantung kemudahan dan ketersediaan material setempat serta biayanya. Disarankan perlindungan ini untuk tanah dasar yang salurannya tidak kuat menahan erosi, dan kemiringan dasarnya besar (> 4 %).

G. Perkerasan Jalan

1). Tanah dasar jalan (subgrade) disiapkan lebih dahulu, artinya yang kurang padat agar dipadatkan dan dibersihkan.
2). Penghamparan dilakukan dengan cara berlapis lapis, masing masing ketebalan sekitar 10 cm dan dipadatkan secara manual. Pondasi dengan ketebalan 25 cm dapat dilakukan 2 lapis.
3). Bahan untuk bahu jalan (tanah berpasir) dihampar lebih dahulu sebelum melaksanakan penghamparan lapis pondasi bawah, setelah itu kemudian dihamparkan material lapis pondasi bawah.
4). Material bahan pondasi yang telah dihamparkan dilakukan pemadatan atau penggilasan dalam keadaan kadar air optimum.
5). Pelaksanaan gilasan dimulai dari kedua sisi luar perkerasan menuju tengah dan sejajar dengan as jalan. Di bagian tikungan pemadatan dimulai dari tempat sisi terendah (sisi bagian dalam) menuju sisi kebagian yang lebih tinggi.
6). Jika mesin gilas tidak tersedia, maka pemadatan dilakukan dengan alat timbrisan manual, serentak beberapa orang selebar jalan.
7). Untuk menjaga kerusakan permukaan, lapis pondasi yang telah selesai perlu dipertimbangkan ditutup dengan lapis penutup.

H. Pekerjaan Gorong Gorong

Cara pelaksanaan gorong gorong adalah :

1). Pembuatan gorong gorong dilakukan sebelum pelaksanaan perkerasan.
2). Pada lokasi yang ditentukan saat perencanaan dan telah diberi tanda patok, dilakukan penarikan garis as gorong gorong.
3). Dibuat profil dari potongan bambu/kayu untuk batas batas galian gorong gorong. Ukuran disesuaikan dengan yang tertera pada gambar rencana, baik lebar maupun tinggi gorong gorong. Setelah itu diberi tanda patok pada batas batas oprit.
4). Laksanakan penggalian pada rencana gorong gorong.
5). Pada gorong gorong kayu, patok samping dari bahan kayu bulat dipasang dengan perkuatan untuk tumpuan gelagar dari balok kayu 6/12 atau bulat 15 cm. Pemasangan gelagar dengan cara dikerat dan ditempelkan pada patok samping.
6). Pasangkan gelagar kayu bulat/bambu atau kayu diatas tumpuan. Bila digunakan kayu bulat/bambu, di atas gelagar digelar 2 lapis anyaman bambu, yang dipaku/diikat kuat dengan ijuk ke gelagar.
7). Pada bagian depan dan belakang gelagar serta lapisan anyaman bambu ditutup dengan lapisan sirtu dicampur semen dengan perbandingan 1 : 20 (1 semen : 20 sirtu). Campuran dihamparkan dan dipadatkan sehingga berfungsi sebagai bagian pengunci.
8). Timbun atas gelagar setebal 20 cm dengan campuran serupa dan dipadatkan sehingga berfungsi sebagai bagian pengunci.
9). Untuk semua jenis gorong gorong, kecuali plat beton, setelah lapis konstruksi permukaan selesai dikerjakan segera dilakukan penimbunan oprit yang dilanjutkan dengan pemadatan.
10). Bahan timbunan yang dipakai sama dengan bahan perkerasan atau sama dengan penutup gelagar.
11). Bila timbunan di atas jalan lebih tinggi dari ketinggian jalan sebelum dan sesudah tempat gorong gorong, transisi dibuat dengan kemiringan 10 %.

Untuk gorong gorong lain, pondasi dibuat dari batu belah dengan tebal 15 cm dan lapisan pasir tebal 10 cm, di bawah gorong gorong sepanjang bangunan. Tanah labil harus dirucuk dengan cerucuk sebelum lapisan batu dan pasir.

Dimensi loneng harus sesuai dengan desain. Loneng dibangun 60 cm lebih rendah dari pada dasar gorong gorong supaya dapat menahan lapisan batu. Tinggi 50 cm di atas badan jalan.

Desain sayap, dimensinya harus sesuai dengan desain standar. Bentuknya disesuaikan. Dengan keadaan dilapangan dan pencegahan erosi sayap sebaiknya dibuat di atas tanah asli, dan pembuangan dari gorong gorong harus dilindungi dari masalah erosi dari aliran cepat.
khusus buis beton, disambung dengan cincin setebal dan selebar 15 cm sekeliling buis beton.

Post a Comment for "PANDUAN SINGKAT PERENCANAAN JALAN DESA"